Minggu, 03 April 2011

Menghadapi UJIAN NASIONAL

Di sebuah taman yang indah duduklah seorang anak yang sedang takjub melihat dua buah kepompong, lama dia perhatikan dua kepompong tersebut hingga akhirnya salah satu darinya ada yang bergerak-gerak membuat si anak fokus terhadap kepompong yang bergerak-gerak ini, rupanya yang di dalam kepompong akan keluar.
Rupanya dari lubang yang sempit akan keluar sebuah makhluk baru yaitu kupu-kupu. Perlahan tapi pasti mulailah tampak kepalanya. Namun karena lubangnya yang sempit membuat kupu-kupu keluar dengan susah payah, lama sekali proses keluarnya.
Melihat kejadian tersebut, si anak mulai iba, ingin rasanya dia membantu sang kupu-kupu. Setelah lama dia berfikir akhirnya si anak memutuskan untuk membantu si kupu-kupu untuk keluar dengan cara menggunting ujung kepompong tempat keluarnya kepala kupu-kupu sehingga lubangnya menjadi besar dan membuat si kupu-kupu mudah untuk keluar.
Akhirnya sang kupu-kupu pun keluar, dengan mudah. Tapi ada keanehan pada kupu-kupu tersebut. Dia memiliki kepala yang besar, badannya gemuk dan sayapnya pendek dan kecil. Si anak pun heran, kenapa kupu-kupunya menjadi seperti itu.
Dengan keadaan seperti itu, si kupu-kupu tidak bisa terbang karena sayapnya kecil sementara badannya besar. Kemudian si anak mencoba membantunya untuk terbang, tetapi tetap saja tidak bisa terbang bahkan membuat si kupu-kupu terluka hingga akhirnya si kupu-kupu pun mati.
Melihat kupu-kupu yang dia tolong mati, si anak pun menjadi merasa berdosa dan bersedih.
Kemudian si anak perhatikan lagi kepompong yang ke dua yang mulai gerak-gerak lagi.
Akhirnya dari ujung kepompong keluar kepala kupu-kupu. Perlahan namun pasti, si kupu-kupu keluar. Sementara si anak kali ini hanya membiarkan si kupu-kupu berjuang sendirian untuk keluar, dia takut kalau dia bantu maka si kupu-kupu akan mati lagi, dan dia merasa berdosa atasnya.
Perlahan-lahan kupu-kupu pun keluar dengan susah payah. Kemudian anak itu melihat bahwa kupu-kupu yang dia tidak bantu ini keluar dengan sempurna. Kupu-kupu tersebut memiliki badan yang sesuai dengan kepalanya, sementara sayapnya lebar dan besar dan kupu-kupu ini bisa terbang.
Kemudian si anak pun terlihat riang dan gembira karena melihat kupu-kupu dapat lahir dengan sempurna.
Si anak kemudian berfikir, dan akhirnya dia berkesimpulan bahwa kupu-kupu yang dia bantu, membuat badannya gemuk, kepala besar dan sayap kecil karena kupu-kupu tersebut dia bantu sehingga tidak melewati lubang yang kecil tetapi lubang yang besar, sehingga badannya tidak menjadi langsingdan energi yang ada dalam tubuhnya tidak teralirkan kepada sayapnya sehingga sayapnya pun menjadi kecil dan pendek.
Sementara itu, kupu-kupu yang tidak dia bantu, keluar dari lubang yang kecil. Sehingga membuat badannya yang besar itu terperas dan energinya mengalir ke sayapnya, membuat sayap kupu-kupu tersebut menjadi besar dan lebar, dan akhirnya bisa terbang.

Dari pelajaran kupu-kupu di atas, kita dapat belajar tentang kesuksesan hidup, termasuk di dalamnya kesuksesan dalam belajar.
Pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah tadi adalah :
Pertama, Hidup kita di dunia ibarat kita hidup dalam sebuah kepompong, artinya bahwa hidup kita ini sesempit dan sepengap kepompong. Kita diterpa dalam kepompong dunia, apakah kita bisa keluar dengan selamat dan menjadi orang-orang yang dicintai oleh Allah dan malaikat serta orang-orang yang shaleh, padahal manusia berasal dari cairan yang menjijikan. Seperti kupu-kupu yang indah yang banyak orang menyukainya setelah diterpa dalam kepompong, padahal tadinya hanya dari ulat yang menjijikan.
Atau kita akan mati dan terhina di hadapan Allah SWT yang kemudian dimasukkan ke dalam lubang neraka yang panas dan siksaannya luar biasa. Karena kita gagal ketika diterpa oleh Allah SWT dalam kepompong dunia.
Allah SWT berfirman dalam surat Al Mulk  ayat kedua :
الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم أيّكم أحسن  عملاً
“Dialah Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian, siapakah diantara kalian yang paling baik amalnya?” (Q.S.Al Mulk : 2)

Kedua, ujian yang Allah SWT berikankepada kita adalah keberkahan tersendiri bagi kita. Maksudnya, dengan ujian yang mampu kita lewati maka kita akan diangkat derajatnya, sebagaimana kita naik tangga, setiap kita langkahkan kaki kita maka ada anak-anak tangga yang harus kita lalui, dan setiap kita selesai dengan tangga yang satu, maka kita sudah semakin tinggi dan tinggi. Itulah ujian, mengantarkan kita kepada tempat yang tinggi.
Dalam belajar kita juga dihadapkan kepada ujian. Maka setiap kita tidak ikut ujian berarti ujian kita akan di ulang dan di ulang. Dan setiap kita selesai dan lulus dari ujian tersebut, maka kita akan semakin naik tingkat, dari semester awal naik ke semester kedua dan seterusnya hingga kita dihadapkan dengan ujian nasional untuk menentukan kelulusan kita.

Kita masih sering dapati orang melakukan apa saja buat lulus ujian Nasional (UN),  kadang dengan melakukan kecurangan. Kisah kepompong tadi tentunya memberikan pencerahan kepada kita bahwa ternyata kepompong yang dibantu keluarnya maka tidak akan bertahan lama hidupnya, atau paling tidak memiliki buruk rupa dan tak berdaya, dan terus akan membutuhkan bantuan dari orang lain. Tetapi sebaliknya, kepompong yang keluar dengan sendirinya ternyata lebih dapat berguna dan indah kelihatannya. Dia bebas bisa terbang kemana saja, bahkan orang yang melihatnya pun merasa suka dan senang karenanya.
Ketiga, terkadang hidup yang sulit membuat kita putus  asa, padahal kehidupan yang seperti itu akan membuat kita semakin dewasa, kita bisa terbang dan berkarya sesuai dengan pengalaman yang pernah kita dapatkan.
Thomas Alpha Edisan adalah seorang yang telah dicap  oleh gurunya sebagai orang yang bodoh, bahkan dikembalikan dari sekolahnya kepada orang tuanya. Tetapi kesulitan yang dia hadapi telah membuatnya bekerja keras dan akhirnya di prakteknya yang ke 2000 dia mampu menemukan lampu pijar untuk pertama kalinya dan sangat berguna bagi kehidupan dunia.  Sungguh sangat luar biasa.

Helen Keller, seorang yang buta dan tuli, berhasil menjadi penulis dan sekaligus dosen hebat, yang menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Keempat, belajarlah dari apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar serta apa yang kita rasakan, karena sesungguhnya Allah SWT memberikan tiga potensi kepada kita untuk belajar, yaitu : Mata, Telinga dan Hati. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Al Maidah ayat 54 yang berbunyi :
والله أخرجكم من بطون أمّهاتكم لا تعلمون شيئًا   وجعل لكم السّمع والأبصر والأفئدة لعلكم تشكرون  
“Dan Allah SWT telah mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam keadaan yang tidak tahu apa-apa. Dan kemudian Allah SWT menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagi kalian agar kalian termasuk ke dalam orang-orang yang bersyukur.” (Q.S. Al Maidah : 54)

Allah SWT menjadikan mata bagi kita, agar kita bersyukur dengan nikmatnya penglihatan kita yaitu dengan cara menjadikan setiap apa yang kita lihat menjadi sumber kebaikan bagi kita.
Allah SWT menjadikan telinga bagi kita agar kita bersyukur dengan nikmatnya kita dapat mendengar, maka jadikan setiap yang kita dengar menjadi sumber kebaikan bagi kita.
Allah SWT menjadikan hati kita sebagai pengendali dari semuanya, sehingga hati harus benar-benar dijaga. Jangan sampai hati kita terkotori dengan sesuatu yang merugikan kita.
Orang yang baik adalah orang yang dapat merasakan apa yang orang lain rasakan.
Itulah sekelumit kepompong kehidupan kita di dunia yang fana. Dimana kita hidup di atasnya hanya sekejap mata saja. Maka pergunakan seluruh waktu yang Allah SWT berikan kepada kita dengan amalan kita yang terbaik buat bekalan kita nanti di surga Allah SWT.
Wallahu A’lamu Bish-shawab...